Rabu, 04 Januari 2012

Underachiever

1.      Konsep Underachiever
a.       Pengertian Underachiever
Siswa yang menunjukan prestasi belajar yang rendah biasanya diasumsikan sebagai siswa yang memiliki tingkat intelegensi yang rendah pula. Intelegensi memiliki hubungan yang erat dengan prestasi belajar siswa sehingga digunakan sebagai alat untuk meramalkan kemampuan yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, tingkat intelegensi dianggap sebagai penyebab utama rendahnya prestasi belajar seorang siswa. Ketika seorang siswa memiliki potensi intelegensi yang tinggi maka dia tidak akan mengalami kesulitan dalam mencapai prestasi di sekolah, namun pada kenyataanya sangat sedikit siswa yang menunjukan prestasi belajar yang sama persis dengan kapasitas yang dimilikinya.
Rimm (Del Siegle & McCoah, 2008) menyatakan bahwa underachiever adalah suatu kondisi di mana siswa tidak dapat menampilkan potensinya. Reis dan McMoach (Robinson, 2006) mendefinisikan underachievement sebagai kesenjangan akut antara potensi prestasi (expected achievement) dan prestasi yang diraih (actual achievement). Menurut Peters & VanBoxtel (1999). underachievement dapat didefinisikan sebagai kesenjangan antara skor tes inteligensi dan hasil yang diperoleh siswa di sekolah yang diukur dengan tingkatan kelas dan hasil evaluasi mengajar dari guru.
Robinson (2006) mengatakan bahwa untuk dapat diklasifikasikan sebagai underachiever, kesenjangan antara potensi dan prestasi tersebut bukan merupakan hasil diagnosa kesulitan belajar (learning disability) dan terjadi secara menetap pada periode yang panjang. Underachiever ini juga tidak dikaitkan dengan adanya perubahan hormonal menjelang remaja. Underachiever adalah orang-orang yang memiliki prestasi tidak sebaik dengan kemampuan yang dimiliki. Siswa underachiever digambarkan oleh Hurlock (Rimm, 1986; Sulistiana, 2009) sebagai siswa-siswa yang prestasi akademiknya berada di bawah kemampuan akademik. Didasari oleh kesulitan untuk menemukan istilah teknis yang baku dalam bahasa Indonesia maka Moh. Surya (1983; Sulistiana, 2009 : 26) mengidentikkan istilah underachiever dengan istilah siswa berprestasi kurang. Untuk  memperoleh  pengertian  yang lebih jelas tentang siswa berprestasi kurang tersebut Moh. Surya (1983 : 73; Sulistiana, 2009 : 26) mengemukakan bahwa siswa yang tergolong berprestasi kurang adalah yang memiliki potensi  tergolong tinggi tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah atau di bawah dari seharusnya dapat dicapai. Jadi prestasinya masih kurang dari yang diharapkan dapat tercapai sesuai dengan potensinya.
Natawidjaja (Husein, 1999:1; Sulistiana, 2009)  mengemukakan bahwa  terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal.  Faktor internal dalam belajar adalah faktor-faktor yang ada pada individu yang mencakup intelegensi atau kecerdasan, kepribadian,  bakat, motivasi, metode belajar, serta sikap dan kebiasaan belajar, sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi belajar pada individu yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka kita dapat menyimpulkan  bahwa siswa underachiever adalah siswa yang memiliki tingkat intelegensi yang tinggi, namun tingkat prestasi akademiknya tidak sesuai dengan kapasitas kemampuan yang dimilikinya. Siswa underachiever memiliki kesenjangan antara skor tes intelegensi dengan skor hasil belajar siswa di sekolah yang diukur dengan tingkatan kelas dan hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru.
b.      Karakteristik Underachiever
Siswa underachiever dikatakan tidak berprestasi sesuai dengan kemampuannya karena sebenarnya mereka bisa mencapai prestasi yang baik jika sedang dalam keadaan penuh semangat berprestasi. Namun ketika motivasinya hilang, prestasi belajar yang diraihnya kembali buruk (Hurlock, 1978; Rimm, 1986).
Kaufman (Trevallion, 2008; Sulistiana, 2009)  menyatakan bahwa siswa underachiever  tampil dalam dua arah perilaku di dalam kelas yaitu perilaku agresif atau menghindar. Siswa underachiever  sering  mengatakan  bahwa  pelajaran di sekolah tidak relevan atau tidak penting karena itu mereka biasanya lebih tertarik kegiatan selain kegiatan sekolah. Rimm (1986:2; Sulistiana, 2009) yaitu buruknya keahlian dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, kebiasaan belajar yang buruk, memiliki masalah penerimaan oleh teman sebaya, konsentrasi yang buruk dalam aktivitas sekolah, tidak bisa mengatur diri baik di rumah maupun di sekolah, mudah bosan, “meninggalkan” kegiatan kelas, memiliki kemampuan berbahasa yang baik tetapi buruk dalam menulis, mudah terdistraksi dan tidak sabaran, sibuk dengan pikirannya sendiri, kurang jujur, sering mengkritik diri sendiri, mempunyai hubungan pertemanan yang kurang baik, suka bercanda di kelas (membuat keributan), dan berperilaku yang tidak biasa.
Beberapa penelitian yang membandingkan siswa achiever dan underachiever ditemukan bahwa siswa underachiever cenderung menarik diri dari pergaulan, tidak mandiri, merasa tidak mempunyai kebiasaan bertindak, tidak ada rasa memiliki, dan merasa tidak berarti. Sedangkan siswa achiever menunjukan kepercayaan diri, merasa bebas membuat pilihan sendiri, bisa menghadapi kesulitan dan mengatasinya dengan baik (Durr dan Collier, 1980; Sulistiana, 2009).
Rimm dan Whitmore (Munandar, 2002: 338; Sulistiana, 2009) mengungkapkan karakteristik siswa underachiever adalah sebagai berikut:
1)      Karakteristik primer: rasa harga diri yang rendah, karakteristik yang paling sering ditemukan secara konsisten pada siswa underachiever adalah rasa harga diri yang rendah. Mereka tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki dan merasa tidak mampu melakukan apa yang menjadi harapan orang tua dan guru terhadap mereka.
2)      Karakteristik sekunder: perilaku menghindar. Rasa harga diri yang rendah mengakibatkan perilaku menghindar yang non produktif baik di sekolah maupun di rumah. Misalnya, siswa underachiever menghindari upaya berprestasi dengan menyatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang tidak ada gunanya. Dengan perilaku menghindar mereka melindungi diri dari pengakuan bahwa mereka tidak mampu. Perilaku yang muncul dalam perilaku menghindar tersebut diantaranya adalah menyalahkan sekolah untuk menghindari tanggung jawab mereka untuk berprestasi.
3)      Karakteristik tersier. Karena siswa underachiever menghindari usaha dan prestasi untuk melindungi rasa harga diri mereka yang rentan, maka timbul karakteristik tersier berupa kebiasaan buruk yang diperlihatkan di sekolah. Delisie (1992) (Sulistiana, 2009) mengungkapkan secara jelas mengenai karakteristik tersier siswa underachiever sebagai berikut:
a)      Menemukan secara berulang-ulang adanya konsep diri yang rendah terutama pada aspek eveluasi diri, memiliki rasa inferior yang ditunjukan dengan bentuk ketidakpercayaan, kurangnya perhatian, dan sesekali memperlihatkan permusuhan terhadap orang lain.
b)      Sering merasa ditolak oleh keluarga dan merasa orang tua tidak puas terhadap mereka.
c)      Karena rasa tidak percaya, mereka tidak bertanggung jawab terhadap perilakunya, dan tidak dapat keluar dari konflik atau masalah.
d)      Memperlihatkan tanda permusuhan terhadap figur orang dewasa yang berwibawa dan dipercayai masyarakat.
e)      Menantang pengaruh yang diberikan guru atau orang lain.
f)        Merasa menjadi korban.
g)      Tidak menyukai sekolah dan guru serta memiliki sikap negatif terhadap sekolah.
h)      Memperlihatkan sikap sukarelawan.
i)        Memiliki motivasi dan keterampilan akademik yang lemah atau kurang.
j)        Cenderung memiliki kebiasaan studi yang jelek, kurang dalam pengerjaan tugas rumah, dan meninggalkan pekerjaan sebelum selesai.
k)      Kurang dalam penyelesaian intelektual.
l)        Berpegang teguh pada status kepemimpinan yang rendah dan kurang populer di kelas.
m)    Kurang memiliki kematangan dalam belajar.
n)      Memperlihatkan penyesuaian diri yang rendah dan mengeksperesikan perasaan secara terbatas.
o)      Tidak memiliki minat, hobi, dan kreativitas yang dapat digunakan dalam mengisi waktu luang.
p)       Sering menunjukan nilai tes yang jelek.
q)      Cenderung memiliki aspirasi yang rendah dalam belajar dan tidak memiliki pendapat yang jelas mengenai tujuan pekerjaan.
r)       Tidak mampu berfikir dan merencanakann masa depan.
c.       Jenis-jenis Underachiever
Menurut para peneliti terdapat beberapa jenis siswa underachiever. Adapun klasifikasi tersebut dibagi berdasarkan beberapa hal, yaitu berdasarkan pengukuran, berdasarkan rentang waktu berlangsungnya underacviever, dampaknya terhadap individu maupun orang lain, dan luas pengaruhnya dalam diri individu (Whitemore, 1980; Sulistiana, 2009).
1)      Klasifikasi berdasarkan pengukuran
Berdasarkan hasil pengukuran dijelaskan bahwa underachiever yang terjadi dapat digolongkan kedalam beberapa kelompok sebagai berikut:
a)      Tidak diketahui, yaitu gejala underachiever yang tidak ditemukan karena siswa secara konstan menampilkan kemampuanya yang buruk, sehingga kemampuan yang sebenarnya tidak pernah tampil. Dari hasil pengukuran, skor tes aptitude dan achievement yang diperoleh relatif rendah.
b)      Skor tes aptitude tinggi, sedangkan skor tes achievement dan nilai ulangan rendah.
c)      Skor tes achievment standard tinggi, nilai ulangan rendah. Rendahnya nilai ulangan disebabkan karena penyelesaian tugas-tugas harian yang buruk.
Klasifikasi berdasarkan rentang waktu
Berdasarkan rentang waktu terjadinya, underachiever yang dialami siswa dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
a)      Underachiever sesaat / situasional, yaitu underachiever yang gejalanya muncul hanya sewaktu-waktu dan disebabkan oleh faktor pencetus yang yang sifatnya gangguan sesaat seperti perceraian orang tua, pindah sekolah, mempunyai minat baru, tidak suka dengan guru dan sebagainya.
b)      Underachiever kronis, underachiever jenis ini berlangsung dalam jangka waktu lama dan faktor pencetusnya tidak jelas.
2)      Klasifikasi berdasarkan luasnya
Berdasarkan luasnya underachiever yang terjadi diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:
a)      Underacviever pada satu keterampilan yang spesifik, dalam kelompok ini siswa menujukan gejala underachiever pada satu bidang tertentu saja, misalnya matematika, menulis, atau olah raga yang disebabkan oleh kurangnya minat dan motivasi.
b)      Underachiever pada suatu bidang keterampilan yang lebih luas, pada kelompok ini underachiever terjadi pada beberapa keterampilan yang menyangkut keterampilan dasar yang sama, seperti keterampilan bahasa yang menyangkut keterampilan membaca, menulis, dan mengarang.
c)      Underachiever menyeluruh, siswa yang tergolong kepada underachiever jenis ini menunjukan keterampilan yang rendah pada semua bidang keterampilan. Tidak ada satupun mata pelajaran yang mendapatkan nilai lebih baik dari rata-rata kelas, bahkan biasanya dibawah rata-rata.
d.      Kriteria Underachiever
Muhammad Surya (1979 : 116) mengemukakan bahwa untuk mengidentifikasi siswa underachiever terlebih dahulu ditetapkan karakteristik potensi dan prestasi.
1)      Untuk potensi pada umumnya berdasarkan hasil tes intelegensi dengan menggunakan skor
2)      Kerekteristik prestasi dinyatakan dalam bentuk tingkatan (grade). Untuk prestasi secara keseluruhan dinyatakan dalam bentuk nilai pukul rata-rata dalam bentuk nilai komposit dari setiap bidang studi yang dipandang mewakili prastasi.
Langkah-langkah untuk menentukan siswa underachiever adalah sebagai berikut:
1)      Menggolongkan siswa-siswa yang berpotensi tinggi berdasarkan hasil tes intelegensi
2)      Menganalisa prestasi belajar untuk mengetahui siswa underachiever.
Muhammad Surya (1979 : 117) mengemukakan bahwa pada umumnya dikenal ada tiga macam prosedur yang ditempuh untuk mengidentifikasi siswa underachiever.
1)      Identifikasi dengan mengelompokkan siswa yang sama taraf potensinya, kemudian membandingkan prestasi belajarnya. Jadi, terlebih dahulu harus mengidebtifikasi siswa yang memiliki potensi yang tergolong tinggi, dan setelah itu diantara mereka dibandingkan prestasi belajarnya. Mereka yang berprestasi belajar rendah dikelompokkan sebagai siswa underachiever dan mereka yang berprestasi tinggi digolongkan siswa berprestasi lebih.
2)      Identifikasi membandingkan presentil potensi dan presentil prestasi. Siswa underachiever adalah mereka yang memiliki presentil prestasi lebih rendah dibandingkan dengan presentil potensi.
3)      Identifikasidengan memperhitungkan rasio antara hasil potensi dengan prestasi. Siswa underacjiever adalah siswa yang memiliki rasio yang rendah.
4)      Identifikasi dengan membandingkan antara nilai prestasi belajar yang diperoleh denga nilai prestasi belajar yang diharapkan berdasarkan pola regresi yang telah ditetapkan. Mereka yang emiliki nilai nyata lebih rendah dari nilai yang diharapkan, diidentifikasi sebagai siswa underachiever.
Silvia B Rimm mengemukakan kriteria siswa underachiever dengan membandingkan skor IQ yang dimiliki siswa dengan prestasi akademik yang diperoleh dari nilai rata-rata raportnya. Adapun batasan yang digunakan untuk membatasi luasnya underachiever pada siswa adalah sebagai berikut:


Kategori Underachiever
Kategori
IQ
Prestasi
Jauh di bawah rata-rata
Di bawah 80
0 – 15
Di bawah rata-rata
80 – 89
16 – 29
Rendah rata-rata
90 – 94
30 – 44
Rata-rata
95 – 104
45 – 55
Rata-rata tinggi
105 – 109
56 – 69
Di atas rata-rata
110 – 119
70 – 79
Unggulan
120 – 129
80 – 89
Sangat unggul
130 +
90 – 99
Sumber: Why Bright Kids Get Poor Grades (1995, 2000 : 218)


referensi :
Peters. WA, VanBoxtel. HW. (1999). Irregular Error Pattern in Raven 's Standar Progressive Matrices: a sign of underachievement in testing situation?. High ability studies Vol 10, No. 2,
Rimm, Sylvia B. (1995); A. Mangunharjana. (2000). Why Bright Kids Poor Grades. Mengapa Anak Pintar Mendapat Niali Buruk. New York: Crown Publishing Group; Jakarta: Grasindo.
Robinson, Linda. (2006). combining Achieve,nenr barriers for Adolescent Underachieving Learners. Journal of Cognitive Affective Learning, 2(2) (Spring 2006), 27-32 (dalam www.jcal.emory.edu)
Siegle, Del & McCoah, DB. (2008). Understanding Underachievement: Recent Research on Underachievement.www.aare.edu.au 
Sulistiana, Dewang. (2009). Program Bimbingan Bagi Siswa Underachiever. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Surya.M.  (1979).  Pengaruh faktor-faktor   Non-intelektual terhadap Gejala Berprestasi Kurang. Disertasi pada FPS IKIP Bandung:Tidak diterbitkan.

1 komentar: